Konser Unik Dari NSO

oleh: Camelia Pasandaran

The Messiah, karya yang meski sangat terkenal dan sudah ribuan kali di mainkan di berbagai panggung dunia, bukanlah suatu oratorio yang mudah. Meski diciptakan hanya dalam waktu 24 hari oleh Handel, oratorio spiritual ini memerlukan teknik yang memadai dari para pemain orchestra dan paduan suara yang terlatih untuk bisa membawakannya dengan baik.

Nusantara Symphony Orchestra mementaskannya dengan apik di Grand Ballroom Hotel Mulia. Konser yang dipimpin dirigen asal Hungaria, Gábor Hollerung tersebut menyajikan perpaduan suara yang menyatu sangat baik antara instrumen musik dengan para penyanyi.

Tiga paduan suara Nusantara Choir, Twilight Chorus dan Indonesia Youth-Cordana Choir terlihat sempurna membawakan lagu-lagu naratif dalam oratorio yang megah ini. Keindahan oratorio dilengkapi dengan kehadiran empat orang solois, soprano Binu D. Sukaman, Mezzo Soprano Anna Koor Chooi Choo, penyanyi tenor Ndaru Darsono dan penyanyi bas Harland P. Hutabarat.

Ketika lagu terkenal dalam oratorio ini Halleluyah-chorus dibawakan sebagai penutup bagian pertama, seorang penonton sempat berkomentar, ”Seperti mendengar paduan suara malaikat dari surga.” Tidak berlebihan memang komentarnya, karena memang penampilan mereka sangat prima. Handel pasti sangat bangga melihat bagaimana karyanya dipentaskan dengan begitu megahnya.

Sepintas memang acara ini tidak berbeda dari konser musik lainnya. Tapi bukan aransemen ulang lagu-lagu magnificat karya Bach dengan gaya jazz dengan bunyi drum kelewat keras yang membuat konser ini menjadi tidak biasa.

Penonton dalam konser musik klasik hanya diminta agar diam dan benar-benar tidak membuat suara yang bisa mengganggu musisi di atas panggung.Tapi pada bagian ketiga, Hollerung justru mengajak semua penonton konser di Hotel Mulia itu bernyanyi dengan suara keras. ”Ayo bernyanyi bersama. Jangan kuatir soal tempo, saya akan membantu Anda semua,” kata Hollerung.

“Pertama-tama, saya ingin Anda mencoba bernyanyi Silent Night,” ujarnya sambil menggerakan tongkatnya dan memimpin penonton bernyanyi bersama. Belum lama nyanyian berkumandang, hollerung buru-buru menghentikannya. “Nah inilah bedanya penyanyi profesional dan amatir,” sambil menunjuk penonton dan paduan suara bergantian yang disusul gelak tawa penonton.

Setelah mencoba lagu Silent Night, Hollerung mengajak penonton menyanyikan Auld Lang Syne dengan iringan bergaya jazz. Lagi-lagi dia menghentikannya dan meminta penonton untuk mengikuti ritme jazz yang dimainkan NSO.

Tidak sampai di situ, dia kembali melatih penonton menyanyikan lagu negro spiritual Mary Had a Baby. Penonton pun mulai hanyut dalam latihan untuk bernyanyi bersama dalam konser.

Kemudian belasan lagu Natal tradisional yang terkenal dibawakan di sini. Suasana menjadi sangat meriah ketika di beberapa bagian dirigen membalikkan punggungnya dan menyanyikan tiga lagu-lagu yang sudah dilatih di awal.

Bagian ini dikemas dengan kreatif. Musik yang dibawakan pun sangat dinamis. Bunyi-bunyian perkusif seperti bunyi bel memberikan efek yang baik pada beberapa lagu seperti Silent Night, What Child is This dan Deck the Hall. Iringan alat musik gesek yang mengalun panjang mengiring O Tannenbaum (O Christmas Tree). Sebuah lagu Advent Veni Veni Emmanuel dilantunkan dengan gaya klasik. Pada lagu Auld Lang Syne malah dibuat kanon antara paduan suara di panggung dengan penonton.

Di berbagai lagu tersebut para solois juga ikut mengisi, seperti pada lagu Ala Huella, Alla Huella, Mary Had a Baby dan What Child is This. Bagian terakhir ini ditutup dengan empat lagu berturut-turut Venite Adoremus, Nowell, Nowell, We Wish You A Merry Christmas dan Joy to the World.

Keterlibatan aktif penonton dalam konser ini memang membuat penonton terlihat sangat menikmati konser. Menurut Van Nes, bagian sing along ini tidak dipersiapkan. ”Itu spontanitas. Kira-kira lima menit sebelum pertunjukkan, Miranda (Goeltom) datang pada saya dan mengusulkan bagaimana kalau sing along? Kami memilih tiga lagu.”

Meski tak lazim, Hollerung menilai kegiatan menyanyi bersama itu menjadi cara tersendiri untuk menyampaikan sisi lain dari musik klasik. “Jangan dilupakan bahwa tradisi konser baru mulai sekitar 700 tahun yang lalu. Sebelumnya orang bernyanyi bersama-sama dan bukan sekedar membeli tiket lalu duduk diam mendengarkan musik,” tutur Hollerung.

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s